Rabu, 22 September 2021

KONEKSI ANTAR MATERI 3.2

 A. Guru Sebagai Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya

Guru adalah seorang pemimpin. Oleh karena itu seorang guru haruslah mampu membawa perubahan baik di kelas, sekolah, maupun lingkungan sekitar ke arah yang lebih baik. Jiwa kepemimpinan seorang guru sangat diperlukan dalam mengelola pembelajaran di kelas. Kepemimpinan seorang guru bisa dilihat dari bagaimana dia mengelola kelas, melakukan inovasi dalam pembelajaran, dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada baik di kelas maupun di sekolah.

Selain sebagai pemimpin dalam pembelajaran, guru juga dituntut mampu menjadi pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Guru sebagai pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dapat diartikan sebagai guru yang bisa mengidentifikasi dan memanfaatkan segala sumber daya/kekuatan/potensi yang ada untuk meningkatkan kulaitas atau membuat suatu perubahan ke arah yang lebih baik dan berdampak positif bagi murid dan sekolah.

Berangkat dari lingkup yang paling kecil yaitu kelas, guru bisa mengidentifikasi modal/aset yang ada untuk dikembangkan. Modal/aset utama sebagai acuan dalam pengembangan sebuah kelas/sekolah adalah modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya.

B.      Pengelolaan Sumber Daya Yang Tepat Untuk Meningkatan Kualitas Pembelajaran

Sekolah bisa diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, karena didalamnya terdapat interaksi antara unsur hidup (biotik) dan unsur tak hidup (abiotik) dalam lingkungan tertentu. Yang termasuk unsur hidupnya adalah murid, guru, kepala sekolah, pengawas, staf/tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat sekitar. Sedangkan unsur tak hidupnya adalah keuangan dan sarana prasarana sekolah. Berangkat dari hal di atas maka sekolah bisa disebut sebagai sebuah komunitas.

Diperlukan pengelolaan sumber daya yang tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Secara umum ada dua pendekatan dalam pengembangan sebuah komunitas, yaitu pendekatan berbasis masalah/kekurangan (deficit-based thinking) dan pendekatan berbasis aset/kekuatan (asset-based thinking) yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer. Berikut perbedaan kedua pendekatan tersebut:

Berbasis pada kekurangan/masalah/hambatan

Berbasis pada aset

Fokus pada masalah dan isu

Fokus pada aset dan kekuatan

Berkutat pada masalah utama

Membayangkan masa depan

Mengidentifikasi kebutuhan dan kekurangan – selalu bertanya apa yang kurang?

Berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Fokus mencari bantuan dari sponsor atau institusi lain

Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan)

Merancang program atau proyek untuk menyelesaikan masalah

Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan

Mengatur kelompok yang dapat melaksanakan proyek

Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan

(Green & Haines, 2010)

Lalu bagaimana caranya agar pengelolaan sumber daya bisa meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah? Tentunya langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengidentifikasi aset/kekuatan yang ada kemudian menyusun strategi/program yang tepat dan melaksanakannya. Dalam tahapan menyusun strategi/program ini, kita bisa menggunakan tahapan BAGJA yang merupakan akronim dari: Buat Pertanyaan-Ambil Pelajaran-Gali Mimpi-Jabarkan Rencana-Atur Eksekusi.

Berikut adalah contoh pembuatan program berdasarkan aset/kekuatan yang ada dengan menggunakan tahapan BAGJA:

Tahapan BAGJA

Panduan Tahapan

Hasil Tahapan

B-uat Pertanyaan

Buatlah pertanyaan untuk mengarahkan kita kepada penelusuran hal-hal yang akan kita lakukan

Bagaimana cara meningkatkan kemampuan siswa dalam mengembangkan bakat keagamaannya di sekolah ?

A-mbil Pelajaran

Ceritakan dan tuliskan pengalaman/kegiatan baik, prestasi yang pernah terjadi yang berhubungan dengan topik bahasan (kepemimpinan siswa (murid) di sekolah)

Siswa kelas 5 putra dan putri menjadi juara 1 pildacil ditingkat kecamatan dan menjadi utusan untuk mengikuti kejuaraan ditingkat selanjutnya.

Pada hari besar islam di sekolah dan di lingkungan siswa-siswi mengisi kegiatan peringatan dengan tampil sebagai mubalig-mubalighah cilik

G-ali Mimpi

Buat gambaran rinci kondisi ideal atau mimpi kita terkait topik bahasan:

-          Kemampuan  seperti apa yang dibayangkan ada dalam diri siswa (murid)

-          Perilaku apa saja yang ada pada siswa (murid) dengan pengetahuan  keagamaan  yang diharapkan

-          Perilaku guru seperti apa yang mendorong kemampuan siswa dalam menyampaikan pengetahuan  keagamaan

-          Perilaku kepala sekolah seperti apa yang mendorong kemampuan siswa dalam menyampaikan pengetahuan  keagamaan

-          Perilaku orang tua seperti apa yang mendorong kemampuan siswa dalam menyampaikan pengetahuan  keagamaan

-          Hal apa saja yang perlu dimiliki untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyampaikan pengetahuan  keagamaan

 

·         Murid menjadi para dai dan daiyah yang hebat

·         Murid yang memiliki kemampuan dalam menyampaikan pengetahuan agama dengan baik

·         Guru menjadi motivator yang baik bagi siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa seluas-luasnya pengembangan diri mengaktualisasikan diri dlam menyampaikan pengetahuan keagamaan dengan percayadiri

·         Kepala sekolah memberikan dukungan dalam pengembangan bakat siswa secara moril dan materil serta memberikan kepercayaan terhadap langkah perbaikan dan pengembangan guru dan siswa

·         Orangtua memberikan dukungan sepenuhnya terhadap pengembangan bakat keagamaan anak-anaknya

·         Membuat jadwal rutin pelaksanaan kegiatan, pembimbing, dan berbagai fasilitas yang mendukung pelaksanaan seperti sound dll

 

J-abarkan Rencana

Membuat cara/strategi mencapai mimpi-mimpi yang sudah kita tuliskan:

 

-    Rencana/strategi apa yang perlu dilakukan (siapa melakukan apa)?

-    Bagaimana memonitor dan mengevaluasi rencana tersebut (bisa melihat format kerangka Monev)

Rencana program :

Program Kultum (kuliah tujuh menit) Pagi, dilaksanakan setiap hari jum’at pagi setelah kegiatan sholat duha bersama sebelum masuk kelas. Program ini memerlukan dukungan dari semua pihak terutama Kepala Sekolah sebagai penanggung jawab, dewan guru sebagai pengarah, guru PAI sebagai koordinator acara, dan murid kelas 6 sebagai seksi acara dan perlengkapan. Guru PAI akan menentukan beberapa  tema ceramah yang bisa dipilih oleh murid dan membuat jadwal kelas berapa yang akan tampil sebagai penceramah. Guru kelas dilibatkan dalam memilih dan mempersiapkan murid yang akan tampil sebagai penceramah pada kegiatan Kultum Pagi. Kegiatan ini juga bisa melibatkan orang tua murid, masyarakat, dan guru ngaji sebagai pembimbing.

 

Monitor dilakukan oleh guru dan murid kepada murid dan untuk murid sendiri. Evaluasi melibatkan guru, kepala sekolah, dan masyarakat

A-tur Eksekusi

Menentukan tim inti program:

-    Siapa koordinator/ penanggung jawab pelaksanaan program

-    Siapa yang bertugas memonitor dan mengevaluasi jalannya program

-    Siapa yang bertugas membuat laporan program

-    Bagaimana cara komunikasi/koordinasi yang dilakukan tim (melalui pertemuan (diskusi), rapat mingguan/ bulanan dll) untuk memberi kabar satu sama lain tentang jalannya program

Penanggung jawab dan mekanisme koordinasi antar tim:

Penanggung Jawab kegiatan: Kepala Sekolah

Pengarah : Dewan Guru

Koordinator Acara: Guru PAI

Penanggung Jawab sie Acara: Murid kelas 6

Penanggung Jawab sie Perlengkapan: Murid kelas 6

Laporan dibuat oleh Koordinator acara (ketua panitia). Koordinasi dilakukan dengan rapat setiap satu minggu sekali internal panitia. Hasil rapat internal dilaporkan kepada seluruh dewan guru sebagai pengarah acara. Evaluasi dapat dilakukan melalui rapat koordinasi dengan kepala sekolah dan guru.

 

C.      Hubungan Antar Materi Dalam Modul Pogram Pendidikan Guru Penggerak

Melihat tahapan BAGJA di atas mengingatkan pula bahwa antara materi yang satu dengan yang lainya dalam program pendidikan guru penggerak ini saling berkaitan. Tidak hanya itu pula pendekatan berbasis aset juga memerlukan sebuah visi dan misi yang jelas dari seorang guru. Perumusan visi dan misi juga telah dipelajari di paket modul 1 guru penggerak. Komitmen dalam menggerakan diri sendiri dan orang lain serta melakukan inovasi juga menjadi kunci utama dalam mengembangkan sebuah sekolah dimana guru tersebut berada. Seorang guru pnggerak harus keluar dari zona nyaman demi melakukan perubahan-perubahan kecil yang berdampak pada murid.

Sebagai seorang calon guru penggerak, saya telah menemukan banyak hal yang belum saya ketahui sebelumnya. Program pendidikan guru penggerak ini membentuk pola pikir baru saya sebagai seorang guru. Semoga apa yang didapat selama mengikuti pendidikan ini bisa konsisten diterapkan di sekolah meskipun sedikit demi sedikit.